Sukses Kawan Sebangku

Mimpi. Buat saya lima huruf ini memiliki makna yang dalam, untuk saya mimpi bagaikan “bahan bakar” untuk selalu semangat menjalani hidup. Mimpi seringkali saya umpamakan sebuah tumbuhan, dia harus dijaga, dirawat, disiram, diberi pupuk supaya bisa tumbuh sesuai harapan kita. Siapapun berhak punya mimpi, karena dia ada untuk bisa dimiliki oleh siapa saja, siapa saja yang percaya akan kekuatan mistisnya. Setiap manusia memiliki mimpi dan pandangan hidupnya masing-masing, juga jalan yang dipilihnya untuk mewujudkan mimpinya masing-masing.

Bicara tentang mimpi, saya jadi teringat dua sahabat yang saya kenal sejak semasa SMA. Kebetulan kami ditakdirkan berada di kelas 3 Ipa 4. Sedikit bercerita, di sekolah saya SMA negeri 2 Bogor untuk kelas 3 terdapat empat kelas untuk Ipa dan empat kelas Ips, jadi untuk masing-masing kelas ada 3 Ipa 1, 3 Ipa 2, 3 Ipa 3 dan 3 Ipa 4, dan mungkin inilah cara sekolah mengklasifikasikan para murid berdasarkan potensinya secara umum. Berada di kelas 3 ipa 4 bagi saya perjuangan tersendiri, entah kenapa beberapa guru memaksa saya untuk masuk Ips, tapi karena kebencian saya terhadap pelajaran Akutansi, saya berhasil memaksa untuk masuk Ipa, dan masuklah saya di kelas 3 Ipa 4, kelas yang sering di sebut Ipa “maksa”, apa peduli saya, selama terhindar dari akutansi.. 🙂

Saya merasa beruntung masuk kelas ini, saya mengenal banyak kawan-kawan hebat di kelas ini. Perasaan sering di anak tirikan membuat kelas ini jadi solid. Diantara kawan-kawan ada dua kawan yang sangat menginspirasi saya, dan kali ini saya ingin berbagi cerita tentang dua sahabat saya tersebut. Kawan yang duduk persis di depan bangku saya, dua kawan yang luar biasa dan sukses dengan caranya masing-masing, itulah kenapa saya memberi judul tulisan ini “Sukses Kawan Sebangku”.

Sebagai anak yang sering kali dihinggapi rasa malas  tentu saya memilih duduk di bagian paling belakang, posisi paling pas buat baca komik, gambar-gambar, ngobrol atau kegiatan apapun yang tidak berhubungan dengan pelajaran saat jam pelajaran. Persis di depan saya duduk sepasang mahluk super ajaib, Ilwan dan Angga. Sepasang mahluk ajaib yang sering kali memperdebatkan hal-hal yang tak ada urusannya dengan pelajaran sekolah. Selesai SMA Angga dan Ilwan terpisah di kota yang berbeda. Ilwan di terima di UGM Yogyakarta dan Anggara di ITS Surabaya. Sekarang setelah beberapa tahun berlalu sangat menarik melihat profil dan kesuksesan dua sahabat saya ini, karena saya pribadi juga merasa belajar banyak dari mereka.

Anggara sedang meramu baso

Anggara Kasih Nugroho Jati atau biasa kami panggil si Jempol saat jaman SMA adalah sosok yang sangat setia kawan dan sangat bisa diandalkan saat membutuhkan bantuan, singkat kata anak ini orang yang sangat bisa dipercaya. Sebagai salah seorang yang mungkin paling kuat dan tangguh di sekolah beruntung anak ini bukan tipikal seorang penindas. Anggara juga orang yang serius, focus dan pekerja keras, saya ingat semasa SMA dia rela ikut les fisika atau bertanya saat masa istirahat untuk memastikan bahwa dia bisa menjawab soal-soal fisika, sementara saya asyik maen bola atau basket. Kuliah di ITS apalagi mengambil jurusan tehnik sipil tentu bukanlah perkara mudah, tetapi dari cerita yang saya dengar langsung darinya  semasa kuliah inilah dimana dia pertama kali mulai bersentuhan langsung dengan dunia bisnis. Dunia yang akhirnya melambungkan namanya. Pada awalnya kalau saya tidak salah ingat Angga menggeluti bidang percetakan atau sejenisnya, tetap bukan sebagai pemilik perusahaan. Hingga suatu hari dia mendapat inspirasi dari tetangganya di Surabaya yang berjualan bakso, lalu kemudian Angga memulai usahanya di bidang kuliner ini. Saat ini Angga sudah berhasil menjelma salah satu pemain besar di dunia “Baso”, kalau kalian pernah melihat brand “Baso Kepala Sapi Jawa” itulah brand-brand yang di kembangkan olehnya yang bahkan franchisenya saya lihat di Papua, kalau tidak salah di daerah sekitar Abepura. Angga juga mendapatkan penghargaan sebagai salah satu pengusaha muda terbaik versi bank Mandiri. Seperti juga Steve Jobs, Mark Zuckerberg atau Bill Gates, memutuskan untuk lebih focus pada bisnis dibandingkan kuliah bukan merupakan hal yang salah. Setiap manusia punya pilihan hidupnya masing2, saat Angga focus ke bisnis, Ilwan si teman sebangku punya cerita lain.

Ilwan saat menyaksikan kejuaraan dunia antar klub di Tokyo

Ilwan Izani, anak ajaib asal Bojong Gede (daerah yang berada diantara Bogor dan Depok), jujur saja saya rasa anak ini adalah salah satu anak paling cerdas yang pernah saya temui, cerdas…bukan rajin, setidaknya saat SMA kelas 1 sampai kelas 2, karena yang saya ingat dia sering “mabal” alias cabut dari sekolah. Saat itu ada dua “pintu utama” untuk kabur dari sekolah, lewat samping melalui rumah MS Kaban yang saat itu masih dibangun dan lewat pintu belakang dimana sebelumnya harus melalui kebun belakang sekolah. Gampang saja saat itu kalau ingin mencari Ilwan, cari saja di “rental” PS terdekat, niscaya anak ini pasti ada disana sedang asik bergumul dengan joystick.

Saya merasa kadang masalah waktu saja sampai orang menemukan passion nya, Angga mungkin menemukan passion nya di dunia bisnis saat kuliah, Ilwan menemukan passionnya saat kelas 3 SMA, saat dia mulai mengenal lebih jauh pelajaran fisika, dan saat passion berpadu dengan keinginan besar untuk maju serta sedikit bakat maka hasilnya akan luar biasa. Alasan itu jugalah mungkin yang mendasari kenapa dia memilih jurusan “Elektronika & Intrumentasi” bukan jurusan yang terdengar “fancy” buat saya tapi saya ingat dia bilang begini waktu saya tanya alasan kenapa pilih jurusan itu “Gw seneng banget sama sistem kendali terutama kayak remote sistem gitu bisa ngontrol sesuatu dr jauh. mungkin karena masa kecil pengen punya mainan remote nggak kesampaian. kagum aja liat mainan tetangga..trus pengen belajar bidang yang berkaitan Komputer & IT juga..Jurusan ini mempelajari semua yg pengen gw tahu”. Buat gw ini gila..coba kalian bayangin setelah lulus SMA anak ini udah tahu persis dia mau kemana, sementara saya pengen masuk Unpad karena ingin merasakan jada warga Bandung yang konon katanya wanitanya “gareulis”..hehehe..

Di Yogya Ilwan tampak benar-benar menikmati hidupnya, karena dia benar-benar merasa sudah ada di jalurnya dan terbukti dia mahasiswa paling cemerlang di jurusannya. Setelah lulus kuliah dia bekerja di perusaahan SIM Card bagian R&D di Jakarta selama setahun hingga akhirnya dia melihat adanya peluang dari Toshiba yang punya program global recruitment. Program yang merekrut orang asing dari berbagai negara untuk bekerja di Jepang. Dari beribu-ribu orang yang melamar Ilwan berhasil terpilih dan saat ini dia bekerja di Toshiba Social Infrastructure System bagian desain & pengembangan sistem kendali buat transmisi & distribusi energi listrik. Yang kebetulan mirip dengan  sistem yang dia kerjakan saat projek akhir kuliah dulu. Sampai ke Jepang sudah pasti bukan perjalanan yang mudah, yang saya selalu ingat dan pelajari dari dia adalah bagaimana membuat projeksi dan silabus untuk diri sendiri. Dari kelas 3 SMA saya lihat sendiri dia membuat silabus atau jadwal apa yang harus dipelajari dan capai dalam satu hari. Misalnya hari ini harus belajar dan paham tentang Bab A, besok Bab B dan seterusnya. Saya kira itu hanya kebiasaan saat SMA saja, saat saya ke Yogya dan menumpang di kosan dia pun ternyata dia masih meneruskan kebiasaan ini. Salut!!

Saya percaya kita selalu bisa belajar dari orang-orang terdekat kita, kadang kita hanya malas untuk menganalisa atau terlalu terbiasa hingga tak peduli. Tapi inspirasi dari dua sahabat ini sungguh jadi pelajaran buat saya pribadi. Terus kembangkan mimpi mu kawan!!

Advertisements

One thought on “Sukses Kawan Sebangku

  1. redhanaulia says:

    sukses terus ya yan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: