Bintang Turnamen Sintesa San Paolo Milan 2011

We Are the Champions!

Mengingat kembali turnamen Sintesa San Paolo kemarin mengingatkan saya bahwa kita masih memiliki harapan yang cerah untuk masa depan sepakbola Indonesia. Saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri bagaimana anak-anak asal Indonesia bisa begitu dominan bila dibandingkan anak – anak dari negara lain yang terkenal dengan tradisi sepakbolanya seperti Italia, Brasil, Mexico dan lainnya. Klise memang, sudah dari beberapa tahun belakangan ini tim anak-anak kita selalu berhasil meraih prestasi tingkat internasional, tapi setelah mulai melewati umur 20 mereka menghilang bak di telan bumi. Bakat emas mereka menguap tak terurus karena tak becus dalam mengurus sepakbola yang berjenjang dan terprogram.

Tetapi kali ini saya tidak akan membahas bobroknya system kaderisasi dan kompetisi di Negara kita, saya akan coba mengulas beberapa pemain yang saya anggap sangat berperan dalam kemenangan tim Indonesia All Star saat di Milan kemarin, termasuk keberhasilan mereka menggasak tim Milan Academy. Tanpa mengecilkan peran pemain lainnya, berikut adalah para calon bintang sepakbola masa depan kita versi saya :

Rahmanto (Manto)

Pemain asal Penajam (sekitar 1 jam kurang dari Balikpapan menggunakan speedboat) adalah kapten sekaligus batu karang di lini pertahanan Indonesia. Lugas, tanpa kompromi dan tidak segan untuk “merangsek” ke depan untuk membantu serangan, sekilas mengingatkan saya pada “Bejo” sugiantoro, salah satu pemain bertahan terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Memiliki darah oriental dari sang ayah, Manto tidak terlihat sedikit pun seperti seorang tionghoa, saya katakan kepadanya “mungkin karena kamu kebanyakan di lapangan bola” jadi hitam, dia hanya tertawa menanggapi itu. Bersama sahabat karibnya Maulid, Manto selalu masuk pilihan utama, bahkan dia bisa diajak sparring dengan para tentara di Penajam, dan juga menjadi pemain inti di PS. Penajam dimana pemain lainnya adalah orang-orang dewasa, menjadi bukti sahih bahwa pemain ini memang memiliki bakat yang istimewa. Selesai dari bangku smp, Manto bercita-cita untuk meneruskan SMA di Ragunan demi memenuhi mimpinya menjadi pemain sepakbola professional. Maju terus Manto, doa kami menyertaimu.

Suprianto Sabar (Sabar)

Pemain kelahiran Sidoarjo ini lolos dari seleksi di kota Malang. Secara pribadi Sabar merupakan pemain yang paling saya suka karakternya dalam tim. Tipikal box-to-box midfielder, mau menjemput bola hingga ke bawah dan sesekali melakukan penetrasi ke pertahanan lawan. Bila dibandingkan dengan pemain tim nasional era sekarang, Sabar mengingatkan saya akan sosok Ahmad Bustomi, cerdas dalam mengalirkan bola, berani berduel dengan siapa saja dan ditunjang dengan stamina yang mumpuni. Anak ini sangat saya harapkan bisa menjadi salah satu tulang punggung tim nasional suatu hari nanti. Di lini tengah Sabar selalu berduet dengan Hamzah yang kebetulan juga lolos dari seleksi di Malang. Saya teringat saat turnamen berlangsung setelah pertandingan ke dua Sabar mengalami kram paha hingga memerlukan penanganan dari tim medis Ac Milan tapi dengan tekad yang kuat dan semangat membara dia bisa kembali bermain di 2 laga berikutnya hingga menjadi juara.  Sifat sederhana juga terlihat menonjol pada sikapnya, di saat yang lain menggunakan sepatu dengan merk terkenal, Sabar cukup menggunakan sepatu buatan negeri sendiri, dan terbukti skill selalu bisa mengalahkan fasilitas

Adnan Faturrahman

Pemain sayap kanan yang merupakan satu-satunya pemain yang lolos dari Makassar. Pemain yang dari kecil memang sudah bercita-cita jadi pemain sepakbola professional ini merupakan salah satu pemain yang layak dapat gelar pemain terbaik selama turnamen, selain karena produkfitasnya dalam mencetak gol, juga karena permainan apiknya di sisi kanan yang bahkan tidak bisa diredam oleh tim Milan Academy, hingga terus menerus mendapat tackle keras yang bahkan membuat “shin pad”nya patah. Gol pertama partai final pun lahir dari insting dan kecepatannya dalam membaca arah bola. Pemain ini pernah menjadi anggota tim nasional u14 saat Yamaha cup, seakan menegaskan bahwa tanah Makassar tidak akan pernah kehabisan pemain sepakbola berbakat. Semoga dengan seiringnya waktu pemain ini bisa semakin matang dan semakin berkembang permainnya.

Sabeg Fahmi Fachrezi (Sabeg)

Pemuda kebanggan warga Jember ini merupakan striker terbaik di dalam tim, sekali diturunkan langsung tiga gol berturut-turut dia berondongkan ke gawang lawan. Skill di atas rata-rata pemain lain, serta kepercayaan dirinya yag tinggi dan pantang kendur merupakan harta yang berharga bagi tim Indonesia. Sabeg juga merupakan pemain tim nasional u 16 dimana dia juga merupakan pemain andalan di sana. Berdasarkan penuturan Adnan, Sabeg adalah striker terbaik yang pernah bermain bersamanya, dan demi melanjutkan karir sepakbolanya bahkan dia rela merantau hingga ke tanah Papua. Saat pertandingan melawan Tim Akademi AC Milan, Sabeg mencetak dua gol dan salah satunya tercipta melalui eksekusi tendangan bebas yang sangat berkelas. Ditangan yang tepat saya yakin kita akan melihat nama ini lagi terpampang di baju tim nasional Negara kita. Sabeg! Ingat nama ini baik-baik kawan.

Gavin Kwan Adsit (Gavin)

Pemuda blasteran Amerika dan Jawa ini dilahirkan di Indonesia dan dibesarkan di Bali. Yang menonjol dari Gavin adalah kecerdasannya saat menguasai bola dan pergerakan tanpa bolanya. Tipikal pemain sepakbola modern yang tidak terlalu lama menguasai bola dan rajin bergerak. Pemain yang juga anggota tim nasional u16 ini memiliki tendangan keras dan mematikan yang berhasil membuat kiper Milan Academy tersungkur tak berdaya. Pemain yang bercita-cita menjadi arsitektur ini saat ini mempertimbangkan untuk meneruskan karirnya di MLS (Major League Soccer) amerika serikat, A league di Australia atau tetap di Indonesia. Kemanapun nanti Gavin menentukan pilihannya mari kita doakan yang terbaik untuknya, dan mau kembali mengenakan lambang garuda di dada demi nama Indonesia.

Para pemain berikut ini adalah pemain yang menurut saya secara mental dan pribadi luar biasa:

Fallen Mariar (Fallen)

Memang tanah Papua adalah kawah candradimuka bakat-bakat sepakbola. Tiada hentinya Papua melahirkan pemain-pemain berbakat. Mulai dari era Frank Sinatra Huwae, Eduard Ivak Dalam, Boas Salossa hingga Patrich Wanggai. Sekarang sudah lahir lagi bakat emas di diri Fallen Mariar. Pemuda asal Manokwari ini memiliki jiwa yang sangat besar karena dua hari setelah sampai di Jakarta untuk pemusatan latihan sebelum bertolak ke Italia dia mendapat kabar sangat buruk, Ayahnya meninggal dunia. Fallen hampir saja memutuskan pulang ke Manokwari, tapi dengan dukungan keluarga dia mengurungkan niat itu dan tetap berangkat ke Milan. Meskipun kesedihan pasti menyelimuti dirinya, tetapi dia tidak pernah menunjukan perasaan itu kepada tim, malah Fallen lah yang selalu menghibur tim ini. Dia dan juga Maulid adalah sumber tawa tim ini. Saya yakin kebesaran jiwanya ini akan membawanya menapaki kesuksesan sebagai pemain professional suatu hari nanti. Pemain ini memiliki karakter seperti pemain Papua lainnya memiliki akselerasi dan dribbling yang mengagumkan, salah satu pemain favorit para pelatih asal Itali. Entah kenapa dibandingkan Boas atau Tibo, Fallen lebih mengingatkan saya kepada Roni Wabia, pemain asal Papua yang pernah menjadi pemain terbaik liga Indonesia.

Saputra

Sederhana saja nama pemain asal Palembang ini, sesederhana sosoknya. Saya pribadi belajar banyak dari Saputra, dia merupakan wujud nyata bahwa mimpi itu ada bagi siapa saja yang percaya dan berusaha untuk mewujudkannya. Menjadi Yatim sejak kecil tentu bukanlah hal yang mudah, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Saputra berjualan Koran. Semua dilaluinya tanpa merasa malu, bahkan dia banyak tahu hal baru dengan membaca Koran-koran yang dijualnya. Dia juga jadi banyak kenal pemain-pemain nasional Indonesia yang bermain di Sriwijaya FC, Arif Suyono, Supardi, Firman Utina adalah nama-nama besar yang selalu memberikan support dan masukan kepada Saputra. Rasa ingin tahu dan belajar yang besar ini tergambar dari perilakunya yang saya lihat sendiri selama 3 hari bersama tim All Star Indonesia. Saputra tidak ragu untuk mengajak orang asing berbincang, walaupun dia harus bolak balik ke Gavin untuk bertanya bahasa Inggris, dan hal  ini saya lihat berulang kali terjadi. Salut saya sama anak ini. Sekaligus sedih saat saya tanyakan apakan nanti jualan Koran lagi saat pulang, Saputra menjawab “Iyalah mas, kalau ngga nanti jajan pakai uang dari mana” wajah polosnya saat menjawab membuat hati saya makin sakit dan pedih.  Saat para koruptor-koruptor bajingan itu beraksi memakan uang rakyat, pemuda seperti Saputra ini harus bekerja keras untuk mimpi dan hidupnya.

Tapi tim ini membuktikan pada kita bahwa mereka mampu berprestasi, dan menunjukan permainan yang berkelas, permintaan mereka tidak muluk-muluk. Mereka hanya minta sedikit perhatian PSSI dan pemerintah supaya tim ini dipertahankan. Mungkin mereka bisa dikumpulkan di satu sekolah, Misalnya SMA Ragunan atau di Diklat Salatiga. Mereka percaya, saya juga percaya mereka akan bisa membawa nama Indonesia ke tingkat dunia. Sekarang mari kita sama-sama berdoa PSSI dan pemerintah focus untuk membangun sepakbola yang berjenjang dan terukur, sudah cukup hentikan pertikaian. Sekarang saatnya Indonesia bangkit dan menuju PIALA DUNIA.

Tim Indonesia di Kantor AC Milan di Via Turati

Advertisements
Tagged ,

2 thoughts on “Bintang Turnamen Sintesa San Paolo Milan 2011

  1. herubiru says:

    Bagus bro tulisannya….cukup menyentuh..
    Keep on writing….ngiri gw jg pengen jd penulis…

    • mrusmin says:

      Wah saya bukan penulis mas..ini juga baru empat kali nulis..hehehe..thx..nantikan tulisan berikutnya yak 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: