Basic bahasa Italia 1

Image

Okeh, #tentangItalia kita mulai dari obrolan sederhana kalau misalnya ketemu orang itali, kita mulai dari gimana cara orang itali nyapa yah..kalo di kita bilang halo..di itali orang nyapa dengan “Ciao” ini versi informalnya, kalo formalnya “Buongiorno” (selamat pagi – siang) & “Buonasera” (ini bisa dipake dr sore pe malam). Sebenernya ada juga buon pomeriggio, artinya sama kaya good afternoon..tapi jarang banget dipake, gw juga ga paham kenapa begitu.

Kaya bahasa lainnya juga, di bahasa itali untuk pemakaiannya ada yang bentuknya formal, dipake buat ngobrol ke temen atau sama orang yang sudah akrab. Ada juga bahasa formal, dipake buat ngobrol ke yang lebih tua atau dihormati #tentangItalia

Oia “Ciao” juga bisa dipake menutup pembicaraan sebelum pergi, buat yang formalnya bisa pakai buongiorno atau buonasera, terus disambung “arrivederci”, artinya sampai ketemu lagi. Selain itu bisa juga bilang “ a dopo” artinya sama cuma lebih santai maknanya #tentangItalia

Oke sekarang lanjut ke gimana cara memperkenalkan diri. Misalnya mau bilang “ nama saya sumanto”, bahasa italianya “mi chiamo sumanto”. Nah kalo mau tanya orang nama dia siapa, kalian bisa bilang “Come ti chiama? ” #tentangItalia

Kalo mau tanya “kamu dari mana”, bisa bilang “Di dove sei? “, versi yang lebih resminya “Di dove e? “ beda2 tipis..hehehe.. nah kalo mau bilang “saya dari Indonesia” kalian bisa  bilang “ io sono Indonesiano” #tentangItalia

Nah, kalo mau lanjut nanya “disini atau sekarang kamu tinggal dimana? ”, kalian bisa bilang “dove abiti adesso? “, kalau dia balik tanya kalian tinggal dimana, bisa jawab “io abito a banjarmasin”, misalnya kalian dari Banjarmasin #tentangItalia

Nah segitu dulu yah tentang basic conversation dalam bahasa italia, jadi nanti kalo ketemu cewe atau cowo cakep dan tau dia orang italia jangan senyum2 doang..ajak ngobrol..mereka biasanya sangat excited dan seneng kalo ada orang mau ngomong dalam bahasa mereka, dan ga segan buat ngajarin.

Advertisements
Tagged

Sukses Kawan Sebangku

Mimpi. Buat saya lima huruf ini memiliki makna yang dalam, untuk saya mimpi bagaikan “bahan bakar” untuk selalu semangat menjalani hidup. Mimpi seringkali saya umpamakan sebuah tumbuhan, dia harus dijaga, dirawat, disiram, diberi pupuk supaya bisa tumbuh sesuai harapan kita. Siapapun berhak punya mimpi, karena dia ada untuk bisa dimiliki oleh siapa saja, siapa saja yang percaya akan kekuatan mistisnya. Setiap manusia memiliki mimpi dan pandangan hidupnya masing-masing, juga jalan yang dipilihnya untuk mewujudkan mimpinya masing-masing.

Bicara tentang mimpi, saya jadi teringat dua sahabat yang saya kenal sejak semasa SMA. Kebetulan kami ditakdirkan berada di kelas 3 Ipa 4. Sedikit bercerita, di sekolah saya SMA negeri 2 Bogor untuk kelas 3 terdapat empat kelas untuk Ipa dan empat kelas Ips, jadi untuk masing-masing kelas ada 3 Ipa 1, 3 Ipa 2, 3 Ipa 3 dan 3 Ipa 4, dan mungkin inilah cara sekolah mengklasifikasikan para murid berdasarkan potensinya secara umum. Berada di kelas 3 ipa 4 bagi saya perjuangan tersendiri, entah kenapa beberapa guru memaksa saya untuk masuk Ips, tapi karena kebencian saya terhadap pelajaran Akutansi, saya berhasil memaksa untuk masuk Ipa, dan masuklah saya di kelas 3 Ipa 4, kelas yang sering di sebut Ipa “maksa”, apa peduli saya, selama terhindar dari akutansi.. 🙂

Saya merasa beruntung masuk kelas ini, saya mengenal banyak kawan-kawan hebat di kelas ini. Perasaan sering di anak tirikan membuat kelas ini jadi solid. Diantara kawan-kawan ada dua kawan yang sangat menginspirasi saya, dan kali ini saya ingin berbagi cerita tentang dua sahabat saya tersebut. Kawan yang duduk persis di depan bangku saya, dua kawan yang luar biasa dan sukses dengan caranya masing-masing, itulah kenapa saya memberi judul tulisan ini “Sukses Kawan Sebangku”.

Sebagai anak yang sering kali dihinggapi rasa malas  tentu saya memilih duduk di bagian paling belakang, posisi paling pas buat baca komik, gambar-gambar, ngobrol atau kegiatan apapun yang tidak berhubungan dengan pelajaran saat jam pelajaran. Persis di depan saya duduk sepasang mahluk super ajaib, Ilwan dan Angga. Sepasang mahluk ajaib yang sering kali memperdebatkan hal-hal yang tak ada urusannya dengan pelajaran sekolah. Selesai SMA Angga dan Ilwan terpisah di kota yang berbeda. Ilwan di terima di UGM Yogyakarta dan Anggara di ITS Surabaya. Sekarang setelah beberapa tahun berlalu sangat menarik melihat profil dan kesuksesan dua sahabat saya ini, karena saya pribadi juga merasa belajar banyak dari mereka.

Anggara sedang meramu baso

Anggara Kasih Nugroho Jati atau biasa kami panggil si Jempol saat jaman SMA adalah sosok yang sangat setia kawan dan sangat bisa diandalkan saat membutuhkan bantuan, singkat kata anak ini orang yang sangat bisa dipercaya. Sebagai salah seorang yang mungkin paling kuat dan tangguh di sekolah beruntung anak ini bukan tipikal seorang penindas. Anggara juga orang yang serius, focus dan pekerja keras, saya ingat semasa SMA dia rela ikut les fisika atau bertanya saat masa istirahat untuk memastikan bahwa dia bisa menjawab soal-soal fisika, sementara saya asyik maen bola atau basket. Kuliah di ITS apalagi mengambil jurusan tehnik sipil tentu bukanlah perkara mudah, tetapi dari cerita yang saya dengar langsung darinya  semasa kuliah inilah dimana dia pertama kali mulai bersentuhan langsung dengan dunia bisnis. Dunia yang akhirnya melambungkan namanya. Pada awalnya kalau saya tidak salah ingat Angga menggeluti bidang percetakan atau sejenisnya, tetap bukan sebagai pemilik perusahaan. Hingga suatu hari dia mendapat inspirasi dari tetangganya di Surabaya yang berjualan bakso, lalu kemudian Angga memulai usahanya di bidang kuliner ini. Saat ini Angga sudah berhasil menjelma salah satu pemain besar di dunia “Baso”, kalau kalian pernah melihat brand “Baso Kepala Sapi Jawa” itulah brand-brand yang di kembangkan olehnya yang bahkan franchisenya saya lihat di Papua, kalau tidak salah di daerah sekitar Abepura. Angga juga mendapatkan penghargaan sebagai salah satu pengusaha muda terbaik versi bank Mandiri. Seperti juga Steve Jobs, Mark Zuckerberg atau Bill Gates, memutuskan untuk lebih focus pada bisnis dibandingkan kuliah bukan merupakan hal yang salah. Setiap manusia punya pilihan hidupnya masing2, saat Angga focus ke bisnis, Ilwan si teman sebangku punya cerita lain.

Ilwan saat menyaksikan kejuaraan dunia antar klub di Tokyo

Ilwan Izani, anak ajaib asal Bojong Gede (daerah yang berada diantara Bogor dan Depok), jujur saja saya rasa anak ini adalah salah satu anak paling cerdas yang pernah saya temui, cerdas…bukan rajin, setidaknya saat SMA kelas 1 sampai kelas 2, karena yang saya ingat dia sering “mabal” alias cabut dari sekolah. Saat itu ada dua “pintu utama” untuk kabur dari sekolah, lewat samping melalui rumah MS Kaban yang saat itu masih dibangun dan lewat pintu belakang dimana sebelumnya harus melalui kebun belakang sekolah. Gampang saja saat itu kalau ingin mencari Ilwan, cari saja di “rental” PS terdekat, niscaya anak ini pasti ada disana sedang asik bergumul dengan joystick.

Saya merasa kadang masalah waktu saja sampai orang menemukan passion nya, Angga mungkin menemukan passion nya di dunia bisnis saat kuliah, Ilwan menemukan passionnya saat kelas 3 SMA, saat dia mulai mengenal lebih jauh pelajaran fisika, dan saat passion berpadu dengan keinginan besar untuk maju serta sedikit bakat maka hasilnya akan luar biasa. Alasan itu jugalah mungkin yang mendasari kenapa dia memilih jurusan “Elektronika & Intrumentasi” bukan jurusan yang terdengar “fancy” buat saya tapi saya ingat dia bilang begini waktu saya tanya alasan kenapa pilih jurusan itu “Gw seneng banget sama sistem kendali terutama kayak remote sistem gitu bisa ngontrol sesuatu dr jauh. mungkin karena masa kecil pengen punya mainan remote nggak kesampaian. kagum aja liat mainan tetangga..trus pengen belajar bidang yang berkaitan Komputer & IT juga..Jurusan ini mempelajari semua yg pengen gw tahu”. Buat gw ini gila..coba kalian bayangin setelah lulus SMA anak ini udah tahu persis dia mau kemana, sementara saya pengen masuk Unpad karena ingin merasakan jada warga Bandung yang konon katanya wanitanya “gareulis”..hehehe..

Di Yogya Ilwan tampak benar-benar menikmati hidupnya, karena dia benar-benar merasa sudah ada di jalurnya dan terbukti dia mahasiswa paling cemerlang di jurusannya. Setelah lulus kuliah dia bekerja di perusaahan SIM Card bagian R&D di Jakarta selama setahun hingga akhirnya dia melihat adanya peluang dari Toshiba yang punya program global recruitment. Program yang merekrut orang asing dari berbagai negara untuk bekerja di Jepang. Dari beribu-ribu orang yang melamar Ilwan berhasil terpilih dan saat ini dia bekerja di Toshiba Social Infrastructure System bagian desain & pengembangan sistem kendali buat transmisi & distribusi energi listrik. Yang kebetulan mirip dengan  sistem yang dia kerjakan saat projek akhir kuliah dulu. Sampai ke Jepang sudah pasti bukan perjalanan yang mudah, yang saya selalu ingat dan pelajari dari dia adalah bagaimana membuat projeksi dan silabus untuk diri sendiri. Dari kelas 3 SMA saya lihat sendiri dia membuat silabus atau jadwal apa yang harus dipelajari dan capai dalam satu hari. Misalnya hari ini harus belajar dan paham tentang Bab A, besok Bab B dan seterusnya. Saya kira itu hanya kebiasaan saat SMA saja, saat saya ke Yogya dan menumpang di kosan dia pun ternyata dia masih meneruskan kebiasaan ini. Salut!!

Saya percaya kita selalu bisa belajar dari orang-orang terdekat kita, kadang kita hanya malas untuk menganalisa atau terlalu terbiasa hingga tak peduli. Tapi inspirasi dari dua sahabat ini sungguh jadi pelajaran buat saya pribadi. Terus kembangkan mimpi mu kawan!!

Bintang Turnamen Sintesa San Paolo Milan 2011

We Are the Champions!

Mengingat kembali turnamen Sintesa San Paolo kemarin mengingatkan saya bahwa kita masih memiliki harapan yang cerah untuk masa depan sepakbola Indonesia. Saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri bagaimana anak-anak asal Indonesia bisa begitu dominan bila dibandingkan anak – anak dari negara lain yang terkenal dengan tradisi sepakbolanya seperti Italia, Brasil, Mexico dan lainnya. Klise memang, sudah dari beberapa tahun belakangan ini tim anak-anak kita selalu berhasil meraih prestasi tingkat internasional, tapi setelah mulai melewati umur 20 mereka menghilang bak di telan bumi. Bakat emas mereka menguap tak terurus karena tak becus dalam mengurus sepakbola yang berjenjang dan terprogram.

Tetapi kali ini saya tidak akan membahas bobroknya system kaderisasi dan kompetisi di Negara kita, saya akan coba mengulas beberapa pemain yang saya anggap sangat berperan dalam kemenangan tim Indonesia All Star saat di Milan kemarin, termasuk keberhasilan mereka menggasak tim Milan Academy. Tanpa mengecilkan peran pemain lainnya, berikut adalah para calon bintang sepakbola masa depan kita versi saya :

Rahmanto (Manto)

Pemain asal Penajam (sekitar 1 jam kurang dari Balikpapan menggunakan speedboat) adalah kapten sekaligus batu karang di lini pertahanan Indonesia. Lugas, tanpa kompromi dan tidak segan untuk “merangsek” ke depan untuk membantu serangan, sekilas mengingatkan saya pada “Bejo” sugiantoro, salah satu pemain bertahan terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Memiliki darah oriental dari sang ayah, Manto tidak terlihat sedikit pun seperti seorang tionghoa, saya katakan kepadanya “mungkin karena kamu kebanyakan di lapangan bola” jadi hitam, dia hanya tertawa menanggapi itu. Bersama sahabat karibnya Maulid, Manto selalu masuk pilihan utama, bahkan dia bisa diajak sparring dengan para tentara di Penajam, dan juga menjadi pemain inti di PS. Penajam dimana pemain lainnya adalah orang-orang dewasa, menjadi bukti sahih bahwa pemain ini memang memiliki bakat yang istimewa. Selesai dari bangku smp, Manto bercita-cita untuk meneruskan SMA di Ragunan demi memenuhi mimpinya menjadi pemain sepakbola professional. Maju terus Manto, doa kami menyertaimu.

Suprianto Sabar (Sabar)

Pemain kelahiran Sidoarjo ini lolos dari seleksi di kota Malang. Secara pribadi Sabar merupakan pemain yang paling saya suka karakternya dalam tim. Tipikal box-to-box midfielder, mau menjemput bola hingga ke bawah dan sesekali melakukan penetrasi ke pertahanan lawan. Bila dibandingkan dengan pemain tim nasional era sekarang, Sabar mengingatkan saya akan sosok Ahmad Bustomi, cerdas dalam mengalirkan bola, berani berduel dengan siapa saja dan ditunjang dengan stamina yang mumpuni. Anak ini sangat saya harapkan bisa menjadi salah satu tulang punggung tim nasional suatu hari nanti. Di lini tengah Sabar selalu berduet dengan Hamzah yang kebetulan juga lolos dari seleksi di Malang. Saya teringat saat turnamen berlangsung setelah pertandingan ke dua Sabar mengalami kram paha hingga memerlukan penanganan dari tim medis Ac Milan tapi dengan tekad yang kuat dan semangat membara dia bisa kembali bermain di 2 laga berikutnya hingga menjadi juara.  Sifat sederhana juga terlihat menonjol pada sikapnya, di saat yang lain menggunakan sepatu dengan merk terkenal, Sabar cukup menggunakan sepatu buatan negeri sendiri, dan terbukti skill selalu bisa mengalahkan fasilitas

Adnan Faturrahman

Pemain sayap kanan yang merupakan satu-satunya pemain yang lolos dari Makassar. Pemain yang dari kecil memang sudah bercita-cita jadi pemain sepakbola professional ini merupakan salah satu pemain yang layak dapat gelar pemain terbaik selama turnamen, selain karena produkfitasnya dalam mencetak gol, juga karena permainan apiknya di sisi kanan yang bahkan tidak bisa diredam oleh tim Milan Academy, hingga terus menerus mendapat tackle keras yang bahkan membuat “shin pad”nya patah. Gol pertama partai final pun lahir dari insting dan kecepatannya dalam membaca arah bola. Pemain ini pernah menjadi anggota tim nasional u14 saat Yamaha cup, seakan menegaskan bahwa tanah Makassar tidak akan pernah kehabisan pemain sepakbola berbakat. Semoga dengan seiringnya waktu pemain ini bisa semakin matang dan semakin berkembang permainnya.

Sabeg Fahmi Fachrezi (Sabeg)

Pemuda kebanggan warga Jember ini merupakan striker terbaik di dalam tim, sekali diturunkan langsung tiga gol berturut-turut dia berondongkan ke gawang lawan. Skill di atas rata-rata pemain lain, serta kepercayaan dirinya yag tinggi dan pantang kendur merupakan harta yang berharga bagi tim Indonesia. Sabeg juga merupakan pemain tim nasional u 16 dimana dia juga merupakan pemain andalan di sana. Berdasarkan penuturan Adnan, Sabeg adalah striker terbaik yang pernah bermain bersamanya, dan demi melanjutkan karir sepakbolanya bahkan dia rela merantau hingga ke tanah Papua. Saat pertandingan melawan Tim Akademi AC Milan, Sabeg mencetak dua gol dan salah satunya tercipta melalui eksekusi tendangan bebas yang sangat berkelas. Ditangan yang tepat saya yakin kita akan melihat nama ini lagi terpampang di baju tim nasional Negara kita. Sabeg! Ingat nama ini baik-baik kawan.

Gavin Kwan Adsit (Gavin)

Pemuda blasteran Amerika dan Jawa ini dilahirkan di Indonesia dan dibesarkan di Bali. Yang menonjol dari Gavin adalah kecerdasannya saat menguasai bola dan pergerakan tanpa bolanya. Tipikal pemain sepakbola modern yang tidak terlalu lama menguasai bola dan rajin bergerak. Pemain yang juga anggota tim nasional u16 ini memiliki tendangan keras dan mematikan yang berhasil membuat kiper Milan Academy tersungkur tak berdaya. Pemain yang bercita-cita menjadi arsitektur ini saat ini mempertimbangkan untuk meneruskan karirnya di MLS (Major League Soccer) amerika serikat, A league di Australia atau tetap di Indonesia. Kemanapun nanti Gavin menentukan pilihannya mari kita doakan yang terbaik untuknya, dan mau kembali mengenakan lambang garuda di dada demi nama Indonesia.

Para pemain berikut ini adalah pemain yang menurut saya secara mental dan pribadi luar biasa:

Fallen Mariar (Fallen)

Memang tanah Papua adalah kawah candradimuka bakat-bakat sepakbola. Tiada hentinya Papua melahirkan pemain-pemain berbakat. Mulai dari era Frank Sinatra Huwae, Eduard Ivak Dalam, Boas Salossa hingga Patrich Wanggai. Sekarang sudah lahir lagi bakat emas di diri Fallen Mariar. Pemuda asal Manokwari ini memiliki jiwa yang sangat besar karena dua hari setelah sampai di Jakarta untuk pemusatan latihan sebelum bertolak ke Italia dia mendapat kabar sangat buruk, Ayahnya meninggal dunia. Fallen hampir saja memutuskan pulang ke Manokwari, tapi dengan dukungan keluarga dia mengurungkan niat itu dan tetap berangkat ke Milan. Meskipun kesedihan pasti menyelimuti dirinya, tetapi dia tidak pernah menunjukan perasaan itu kepada tim, malah Fallen lah yang selalu menghibur tim ini. Dia dan juga Maulid adalah sumber tawa tim ini. Saya yakin kebesaran jiwanya ini akan membawanya menapaki kesuksesan sebagai pemain professional suatu hari nanti. Pemain ini memiliki karakter seperti pemain Papua lainnya memiliki akselerasi dan dribbling yang mengagumkan, salah satu pemain favorit para pelatih asal Itali. Entah kenapa dibandingkan Boas atau Tibo, Fallen lebih mengingatkan saya kepada Roni Wabia, pemain asal Papua yang pernah menjadi pemain terbaik liga Indonesia.

Saputra

Sederhana saja nama pemain asal Palembang ini, sesederhana sosoknya. Saya pribadi belajar banyak dari Saputra, dia merupakan wujud nyata bahwa mimpi itu ada bagi siapa saja yang percaya dan berusaha untuk mewujudkannya. Menjadi Yatim sejak kecil tentu bukanlah hal yang mudah, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Saputra berjualan Koran. Semua dilaluinya tanpa merasa malu, bahkan dia banyak tahu hal baru dengan membaca Koran-koran yang dijualnya. Dia juga jadi banyak kenal pemain-pemain nasional Indonesia yang bermain di Sriwijaya FC, Arif Suyono, Supardi, Firman Utina adalah nama-nama besar yang selalu memberikan support dan masukan kepada Saputra. Rasa ingin tahu dan belajar yang besar ini tergambar dari perilakunya yang saya lihat sendiri selama 3 hari bersama tim All Star Indonesia. Saputra tidak ragu untuk mengajak orang asing berbincang, walaupun dia harus bolak balik ke Gavin untuk bertanya bahasa Inggris, dan hal  ini saya lihat berulang kali terjadi. Salut saya sama anak ini. Sekaligus sedih saat saya tanyakan apakan nanti jualan Koran lagi saat pulang, Saputra menjawab “Iyalah mas, kalau ngga nanti jajan pakai uang dari mana” wajah polosnya saat menjawab membuat hati saya makin sakit dan pedih.  Saat para koruptor-koruptor bajingan itu beraksi memakan uang rakyat, pemuda seperti Saputra ini harus bekerja keras untuk mimpi dan hidupnya.

Tapi tim ini membuktikan pada kita bahwa mereka mampu berprestasi, dan menunjukan permainan yang berkelas, permintaan mereka tidak muluk-muluk. Mereka hanya minta sedikit perhatian PSSI dan pemerintah supaya tim ini dipertahankan. Mungkin mereka bisa dikumpulkan di satu sekolah, Misalnya SMA Ragunan atau di Diklat Salatiga. Mereka percaya, saya juga percaya mereka akan bisa membawa nama Indonesia ke tingkat dunia. Sekarang mari kita sama-sama berdoa PSSI dan pemerintah focus untuk membangun sepakbola yang berjenjang dan terukur, sudah cukup hentikan pertikaian. Sekarang saatnya Indonesia bangkit dan menuju PIALA DUNIA.

Tim Indonesia di Kantor AC Milan di Via Turati

Tagged ,

Indonesia! back to back champions in Milan!

Victory Lap at San Siro

Hari sabtu ini kota Milan benar-benar gelap. Bahkan sejak hari sebelumnya belum ada terik matahari menyinari tanah kelahiran Paolo Maldini ini. Hujan gerimis mengguyur kota dari pagi, beruntung gelap kota bertolak belakang dengan perasaan ke 18 pemain pilihan hasil seleksi ketat Milan Junior Cam. Mereka terlihat sangat antusias dan bersemangat menghadapi hari ini, hari dimana mereka harus mempertahankan kembali piala turnamen Intesa San Paolo.

Indonesia Milan Junior Camp All-Star Team 2011

No. Nama Posisi Daerah
1 Gianluca Pagliuca Rossy Kiper Semarang
2 Muhammad Fadly Habibi M Kiper Bandung
3 Rahmanto Bek Balikpapan
4 Bambang Tri Atmojo Bek Semarang
5 Adi Irawan Bek Pekanbaru
6 Panca Andy Radto Bek Makassar
7 Dhanu Saputra Bek Malang
8 Adnan Faturrahman Gelandang Makassar
9 Suprianto Sabar Gelandang Malang
10 Rosi Nuril H.A Gelandang Semarang
11 Fallen Mariar Gelandang Bali
12 Okka Dwi Syahputra Striker Medan
13 Hamzah Risfian Striker Malang
14 Saputra Striker Palembang
15 Sofyar Satrio Utomo Striker Surabaya
16 M. Maulid Gelandang Balikpapan
17 Gavin Kwan Adsit Gelandang Bali
18 Sabeg Fahmi Fachrezy Striker Bali

Turnamen yang diadakan oleh AC Milan khusus pemain di bawah 14 dan 10 tahun, dan tahun ini seperti juga tahun sebelumnya Indonesia mengirim 1 tim untuk mengikuti turnamen khusus 11-14 tahun. Format turnamen ini cukup unik, pertandingan dilaksanakan dalam 2 x 20 menit dengan pergantian pemain tak terbatas. Turnamen ini hanya dilaksanakan satu hari dari pagi hingga malam.

Tim Indonesia tergabung dengan tim milan junior camp mix (bulgaria,swedia dan usa) tim milan junior camp amerika tengah dan tim milan junior camp italia. Pertandingan pertama tim Indonesia bermain kurang maksimal, dan menurut saya ada dua alasan yang pertama karena cuaca memang sangat dingin ditambah hujan yang memang tidak berhenti sejak pagi dan yang kedua tentu saja adalah perasaan grogi atau demam panggung. Di pertandingan pertama ini meskipun tim Indonesia menguasai ball possession sepenuhnya, bahkan kiper hampir tidak mendapat ancaman sama sekali, hanya saja antara lini tengah dan lini depan masih belum muncul chemistry permainan yang baik, sehingga sering kali terjadi salah passing, dan ini yang membuat mereka kesulitan mencetak gol saat berhadapan dengan tim mix bulgaria swedia usa. Beruntung akhirnya tim Indonesia bisa mencetak gol melalui Adnan Faturohman berhasil mencetak gol yang akhirnya menjadi satu-satunya gol pada pertadingan ini.

Pertandingan kedua tim Indonesia menghadapi tim dari amerika tengah. sudah semakin nyetelnya permainan antara lini tengah yang dikomandoi Suprianto Subur dan Hamzah Risfian dengan lini depan dimana Rosi Nuril dan Sabeg Fahmi berdiri berbuah manis dengan lima gol tanpa balas yang mereka ceploskan di babak pertama dan ditambah lagi empat gol lagi I babak berikutnya. Di pertandingan ini peran Sabeg sebagai striker utama sangat menonjol dan itu tergambar dari hattrick yang dicetaknya. Selain itu di lini tengah Subur, pemain asal Sidoardjo juga sangat menonjol, perannya yang mirip Ahmad Bustomi di timnas senior benar-benar sangat krusial bagi tim. Tanpa kesulitan tim Indonesia berhasil berpesta di gawang musuh.

Sambil menunggu lawan yang akan dihadapi sebelum pertandingan ketiga tim beristirahat untuk makan siang, dan karena akumulasi dari rasa dingin yang memang menyengat dan lelah bermain di dua pertandingan, Subur sang dirijen lapangan tengah tiba-tiba mengalami kram di bagian paha yang bahkan sampai membuat tim paramedis yang dsediakan AC Milan turun tangan untuk mengatasi ini. Tim Indonesia juga beruntung memiliki tim official yang cepat tanggap, dalam jeda waktu istirahat yang sebenarnya sangat singkat, mereka langsung bergerak mencari pakaian yang bisa membantu anak-anak bertahan di cuaca yang tentu sangat ekstrim bagi kita yang terbiasa di Negara yang hangat, bahkan bisa dibilang panas. Tim official datang dengan rain coat, sweater, baju dalam hangat (sejenis nike fit) dan kaus kaki baru. Walau masih sedikit terpincang-pincang Subur tampak sudah bisa untuk kembali dimainkan oleh pelatih Bambang Waskito. Sebelum pertandingan tim Indonesia mendapat informasi bahwa tim yang dihadapi adalah tim tuan rumah Italia dan hanya ada satu tim yang lolos ke final. Kemenangan jadi hal yang harus mereka raih untuk memuluskan perjalanan ke final dan mempertahankan piala yang tahun lalu diraih.

Sejak kick off tensi pertandingan berlangsung  dengan cepat dan ketat. Kali ini tim yang dihadapi Indonesia memang lebih tangguh dibanding dua lawan sebelumnya, ditambah tentu ti tuan rumah tidak mau kehilangan muka dua kali, setelah tahun lalu dipecundangi oleh Indonesia di final. Secara postur tim dari Italia ini lebih besar dari pemain Indonesia, terutama duet center back mereka yang badannya setara dengan orang dewasa di Indonesia. Memainkan pola 4-4-2 Indonesia beruntung memiliki talenta yang berlimpah di tim ini, salah satu kualitas utama dari para pemain tim ini kekuatan stamina yang sangat baik, didukung dengan pernyataan dari coach Bambang bahwa seluruh pemain yang terpilih memiliki hasil diatas 10 dalam “blip test”, dengan kata lain para pemain ini sebenarnya bahkan kuat bermain 2 x 40 menit dengan tensi yang tinggi. Selain itu pemain kita juga dikaruniai kaki – kaki yang cepat dan lincah. Memanfaatkan dua kelebihan ini tim Indonesia terus menekan dan dominan dalam penguasaan boal. Serangan banyak diarahkan ke sisi kiri dan kanan pertahanan tim Italia, dengan mengandalkan kecepatan Fallen di kiri dan Adnan di kanan. Berawal dari corner kick tim Indonesia berhasil membuka angka yang bertahan hingga akhir babak pertama, baru babak kedua mereka bisa menambah gol yang baru bisa dibalas tim lawan dari tendangan bebas beberapa menit sebelum permainan berakhir. Keunggulan 2-1 berhasil membawa tim Indonesia ke final dan bertemu dengan tim asal grup lainnya.

Pertandingan final dilaksanakan jam 16.20, hari sudah sore menjelang malam dan hujan semakin deras membuat cuaca semakin dingin. Tim lawan di final adalah mix antara Brasil, Venezuela dan Italia. Berhasil mencapai final tentu adalah jaminan bahwa tim lawan bukanlah tim sembarangan. Sejak kick off babak pertama tim Indonesia terus melakukan tekanan setiap pemain lawan menguasai bola. Kelemahan pertahanan di sisi kiri dan kanan musuh berhasil di eksploitasi tim Indonesia dengan baik, sehingga sisi kanan dan kiri lawan terus di gempur secara bergantian,hingga akhirnya terjadi sebuah pelanggaran di sisi kanan depan kotak penalti musuh. Tendangan bebas keras dari Dhanu bek kiri asal jember gagal diamankan dengan baik, dan bola liar berhasil di konversi jadi gol oleh Adnan. Sebuah goal yang dinantikan seluruh pemain dan pendukung Indonesia lahir dan tentu ini sangat baik. Keunggulan angka 1-0 tetap bertahan hingga akhir babak usai. Sebenarnya banyak peluang matang yang seharusnya bisa mereka konversi menjadi gol andai saja kiper tim musuh tidak bermain gemilang. Babak kedua lagi-lagi tim Indonesia lebih banyak menekan tim musuh yang akhirnya berbuah gol kedua melalui kaki Rosi. Sebuah gol yang tercipta berkat permainan passing pendek dan cepat di sisi kiri pertahanan tim lawan yang akhirnya berhasil membuat tim Indonesia unggul 2-0. Seperti pertandingan sebelumnya permainan Indonesia mulai mengendor di akhir-akhir babak kedua. Serangan demi serangan harus dibendung pertahanan yang dikomandoi oleh kapten tim, Rahmanto. Sejak awal turnamen tim Indonesia memiliki pertahanan paling baik bila dibandingkan semua tim lawan. Pertahanan yang berisikan empat pemain, yaitu Dhanu di kiri, Rahmanto dan Bambang di tengah serta Adi di kanan, membuat gawang yang dikawal bergantian antara Fadli dan Pagiluca hanya kebobolan satu goal selama turnamen. Ketangguhan lini belakang ini juga yang membuat hasil 2-0 bertahan hingga akhir pertandingan.

Peluit panjang langsung saja di sambut sorak sorai dan tangis bahagia para pemain dan pendukung Indonesia. Tim Indonesia berhasil membuktikan bahwa mereka masih yang terbaik dan gelar juara ini memang pantas mereka dapatkan, terbukti dengan applaus dari supporter lawan. Para pemain secara reflek langsung mengambil bendera Indonesia yang saya ikat di samping lapangan, beserta banner Milanisti Indonesia. Kami para suporter pun langsung menyerbu dan memeluk anak-anak yang sudah menjadi pahlawan Indonesia ini. Perjuangan mereka tidak mudah untuk mencapai juara 1 ini, dan inilah tim Indonesia, Negara yang bahkan mungkin sebagian besar para peserta turnamen ini tidak tahu tampil sebagai juara dua kali berturut-turut. Selamat! kalian memang yang terbaik selama turnamen ini.
Permainan cantik dari kaki ke kaki yang terus diperagakan tim indonesia benar-benar selalu bisa menekan siapapun lawan yang dihadapi. Tangguh! Inilah kata yang tepat untuk tim Milan Junior Camp Indonesia tahun 2011, semoga tim ini suatu hari kelak bisa membawa kebanggan lain bagi kita bangsa Indonesia. Maju dan tumbuh terus Garuda Muda! Kami akan selalu ada di belakangmu.

Indonesia! Back to Back Champions!!

Tagged ,

Ciao!

Saya pernah membaca sebuah pepatah bijak yang bilang dalam aktifitas kehidupan kita sehari hari kita ada dua hal yang paling sulit, yang pertama yaitu bagaimana kita memberanikan diri dan mau bersusah payah untuk kemudian memutuskan, memulai suatu hal, dan yang kedua adalah memutuskan berhenti di waktu yang tepat. Jujur saja, saya merasa kurang berbakat dalam menulis, tetapi saya sangat amat suka membaca, setelah terinspirasi dari seorang sahabat yang biasa bareng berburu buku atau dvd semasa kuliah dulu, akhirnya saya coba iseng2 mau mulai nulis blog. Iseng aja sebenernya, sekaligus pengen mulai berbagi sekelumit perjalanan hidup saya, kata beberapa orang terdekat saya, sayang banget kalo tidak didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Parahnya selainmerasa kurang berbakat menulis, saya juga tidak begitu suka berfoto, entah kenapa, apabila tidak terlalu super spesial, saya tidak merasa perlu ikutan ada sebuah foto. Sekali lagi saya hanya ingin memulai menulis, mencoba berbagi pengalaman dengan harapan bisa berguna buat saya pribadi, juga buat orang lain. Akhirnya tepat di umur saya yang sudah semakin tua, saya ingin memulai suatu hal baru, semoga menjadi titik start yang baik sekaligus monumental.

ciao,

rusmin